Move On, Why Not?

Posted by Unknown 11/29/2013 0 komentar
Kata-kata ini pastinya sudah tidak asing di telinga kita. Move on atau yang anak alay jaman sekarang bilang dengan mup on. Yap, buat yang sering di mabuk cinta, istilah move on pastinya sudah tidak asing. Namun istilah ini terkadang justru mereka coba untuk hindari, karena bagi mereka move on adalah berarti putus cinta, berarti patah hati dan itu tentunya tidak menyenangkan. Move on diartikan oleh mereka adalah melupakan sang mantan. Melupakan seseorang yang pernah menjadi bagian dari hidupnya. Seseorang yang sebagian besar mengisi hari-harinya. Sehingga ketika terjadi patah hati, tidaklah mudah untuk move on. Tidak mudah untuk melupakan dan merubah suatu kebiasaan. Biasanya klo makan dibayarin, biasanya klo kuliah diojekin, biasanya klo pulsa habis dibeliin,,,, *koq curcol jadinya, hahaha....

Ibarat lagu, klo kita masih ingat, seperti kata Charlie vokalis ST 12, “..Satu jam saja ku telah bisa cintai kamu dihatiku, namun bagi ku tuk lupakanmu butuh waktu ku seumur hidup…”. Lagunya daaaaleeeemmm banget (jurang kali), sampai-sampai sang vokalisnya terkadang menangis.

Namun ternyata jika kita pahami ternyata konsep move on itu tidak hanya sebatas itu. Tidak hanya sebatas kisah cinta lawan jenis antara pria dengan wanita (yang biasanya oleh anak muda sekarang di bilang pacaran) bahkan antara suami dengan istri. Move on bisa bermakna lebih luas, lebih dalam (lagi-lagi). Tergantung dari masing-masing pribadi mengartikannya dan mengimplemetasikannya dalam kehidupannya.

Dalam hal pekerjaan misalnya, disaat kita dikejar target dan deadline waktu yang tidak sebentar dan yang pada akhirnya ternyata diperoleh hasil yang tidak sesuai dengan harapan. Biasanya sebagian dari kita akan langsung down, langsung sedih yang berkepanjangan bahkan menyerah. Terlebih lagi jika dalam proses mencapainya dibutuhkan waktu dan biaya yang tidaklah sedikit. 

Kita sering lihat di televisi, berapa banyak orang yang menjadi sakit jiwa karena bangkrut dalam usahanya, di pecat dari perusahaannya dan lain sebagainya. Nah disinilah move on itu sangat diperlukan. Disinilah kita harus berpindah, harus keluar dari kesedihan. Kita harus bangkit dari keterpurukan. Kita harus bangun dan berdiri kembali setelah kita terjatuh, dan menjadikan hal itu itu sebagai pelajaran yang akan menjadikan kita tidak jatuh di lubang yang sama.


Dalam islam pun sama. Istilah move on sebenarnya oleh Allah SWT sendiri sudah diungkapkan didalam kitabnya Al Quran, hanya saja karena bahasa atau kata-kata yang digunakan berbeda dan jarang digunakan serta jarang disampaikan menjadikan banyak dari kita yang menganggap move on itu adalah bahasanya anak jaman sekarang. Padahal hanya berbeda dalam kata-kata namun memiliki konsep yang sama.

Move on bisa diartikan berubah. Perubahan diri yang asalnya tidak baik menjadi baik atau yang sudah baik menjadi  lebih baik lagi.

Perubahan seorang wanita yang asalnya tidak memakai jilbab menjadi memakai jilbab, yang asalnya memakai celana jeans menjadi memakai gamis. Perubahan seorang pria yang asalnya malas untuk berjamaah ke masjid menjadi rajin ke masjid, yang asalnya hobi memakai celana pendek di atas lutut menjadi memakai celana di bawah lutut saat keluar rumah. Dan masih banyak lagi contoh-contoh yang lain.

 Ayatnya yaitu didalam surat Ar Ra’du ayat 11, yang berbunyi :

“ Innallahha laa yughoyiru maa bi qoumin, khatta yughoyiru maa bi anfusihim”

“Sesungguhnya Allah tidak akan merubah keadaan suatu kaum, hingga kaum itu merubah keadaan diri mereka sendiri”

Ayat ini dengan secara jelas dan gamblang menyatakan, bahwa kita manusia itu tidak akan pernah berubah menjadi lebih baik jika tanpa disertai dengan usaha-usaha untuk menjadi lebik. Kita tidak dibenarkan hanya berdoa dan berdoa saja tanpa ada dilakukannya usaha memperbaiki diri. Artinya ada USAHA. Usaha memperbaiki diri, usaha meninggalkan segala macam dosa, usaha menjadi lebih baik lagi.

Tanpa adanya usaha, kita akan terus berada di posisi yang sama. Kita akan tetap dalam kebodohan jika kita tidak pernah mau belajar. Kita akan tetap selalu miskin tanpa kita tidak pernah mau bekerja keras.

Jadi, mari kita budayakan move on menjadi slogan kita setiap hari. Move on ke arah yang lebik baik lagi.

“Orang yang celaka adalah orang yang hari ini lebih buruk dari kemarin, orang yang rugi adalah orang yang hari ini sama dengan hari kemarin, dan orang yang beruntung adalah orang yang hari ini lebih baik dari kemarin”


Baca Selengkapnya ....

Butterfly – part 1

Posted by Unknown 11/07/2013 0 komentar
Pada suatu hari yang sejuk, tampak seorang anak kecil yang bermain-main di taman yang terdapat di kota tersebut. Suatu waktu dia berjalan disekitar tanaman. Langkahnya tampak terhenti sesaat saat ia berada tepat persis di depan sebuah batang tanaman. Ia tampak  serius terdiam memperhatikan “sesuatu” pada batang tanaman tersebut. Sesuatu itu ternyata sebuah kepompong yang sedang bergerak-gerak. Diambilnya kepompong itu dan ia nampak tertegun karena terdapat lubang kecil pada kepompong tersebut dan terlihat seekor kupu-kupu yang berusaha untuk keluar dari lubang tersebut. Kupu-kupu itu terlihat berusaha sekuat tenaga untuk keluar namun hingga suatu saat ia tampak menyerah untuk keluar dari lubang kecil itu.

Anak ini kemudian merasa iba akan kepompong tersebut. Ia pun berinisiatif untu menolong kupu-kupu tersebut keluar dari kepompongnya. Ia mengambil gunting dan mulai memotong dengan hati-hati kepompong tersebut. Ia berfikir bahwa dengan bantuannya maka kupu-kupu itu akan dengan mudah keluar dan terbang ke angkasa.

Setelah anak itu memotong semua kepompong itu, benar saja kupu-kupu dapat dengan mudah keluar. Namun ia masih memiliki tubuh yang gembung dan sayap-sayap kecil yang tampak berkerut. Si anak itu pun mulai mengamati kembali dengan seksama dan berharap agar kupu-kupu itu dapat terbang dengan bebas menuju bunga-bunga yang ada di taman.

Namun harapan tinggal harapan, apa yang ditunggu-tunggu anak itu tidak kunjung terjadi. Yang ada hanyalah tetap seekor kupu-kupu yang terpaksa menghabiskan hidupnya dengan merangkak di sekitarnya dengan tubuh yang gembung dan sayap yang berkerut yang tidak dapat berkembang sempurna. Kupu-kupu itu akhirnya tidak pernah mampu untuk terbang.

Si anak yang menolong kupu-kupu itu keluar dari lubang kecil itu, tampaknya tidak mengerti bahwa kupu-kupu perlu berjuang keras dengan usahanya sendiri untuk keluar dari lubang kecil itu. Lubang kecil yang harus dilalui kepompong itu ternyata  akan memaksa cairan yang ada dalam tubuh kupu-kupu itu masuk kedalam sayap-sayapnya sehingga sayap-sayapnya akan dapat mengembang dengan sempurna dan ia pun dapat siap terbang bebas dan memperoleh kebebasan.


Thomas Alfa Edison pernah berkata, “Hidup adalah perjuangan. Hidup adalah kerja keras, bahkan untuk meraih keberhasilan diperlukan keringat dan air mata.”


Tidak ada yang namanya keberhasilan yang di peroleh dengan cara yang instant. Semuanya butuh kerja keras. Setiap pengalaman yang kita lalui, baik suka maupun duka akan memberikan warna-warni dalam kehidupan ini. Kehidupan yang sangat singkat ini.

Terkadang jika kita merenung, kita ingin menjadi bijaksana. Kita ingin melalui semua itu dengan jalan yang benar tanpa ada bantuan-bantuan yang dalam mencapai keberhasilan. Tanpa ada istilahnya "instant". Namun ketika kenyataan yang kita alami berbeda dengan apa yang kita renungkan di tambah lagi dalam keseharian kita yang diliputi oleh persaingan-persaingan yang ketat. Baik itu dalam menuntut ilmu, pekerjaan atau dalam kehidupan bertetangga. Muncullah hal-hal instant.Sehingga yang penting bagaimana meraih keberhasilan dengan cara apa pun, yang terkadang menghalalkan segala cara.

Seorang mahasiswa yang ingin lulus dengan mudah dan cepat, akhirnya harus mencari cara yang cepat dengan jalan membeli hasil skripsi atau tugas akhir dari orang lain. Seorang anak direktur perusahaan yang baru lulus kuliah, tiba-tiba langsung menjabat menjadi pimpinan tanpa mempunyai bekal atau pengalaman memimpin perusahaan, atau seorang istri yang menuntut suaminya untuk memiliki mobil mewah kepada suaminya yang notabene-nya adalah seorang yang memiliki penghasilan yang pas-pasan hingga akhirnya sang suami demi memenuhi kemauan sang istri akhirnya melalui jalan korupsi. Masih banyak contoh yang menjadikan seseorang itu menjadikan jalan menuju keberhasilan dengan cara yang instant.



Kompetensi seseorang dinilai dengan apa yang telah dilakukannya, bukan dari apa yang diucapkannya. Kompetensi seseorang diuji melalui pengalaman-pengalaman hidup yang dialaminya, bukan sekedar perencanaan yang tertulis di atas kertas.


Oleh itulah kenapa ada pepatah yang mengatakan “belajarlah kepada yang lebih tua, yang lebih tua banyak asam garamnya”.

Seperti kupu-kupu, hidup kita pun tidak hanya sekedar mengikuti siklus kehidupan yang sudah ada. Namuan kita harus berani mengambil langkah untuk berubah menjadi yang lebih baik lagi. Perubahan pertama yang memungkinkan kita untuk menjadi lebih baik adalah perubahan paradigma (perubahan pola berfikir) dan cara pandang. Inilah awalnya, karena setiap dari kita melakukan suatu perbuatan berdasarkan dengan apa yang kita yakini. Bagaimana cara kita memandang kehidupan ini, bagaimana cara kita memandang permasalahan yang dihadapi, akan sangat menentukan bagaimana kita melalui hari-hari kita selanjutnya.

Jika selalau memandang negative dan terus mengeluh tentunya akan membuat sikap mental kita menjadi lebih buruk. Namun sebaliknya jika disikapi dengan optimis dan penuh harapan, maka proses pembelajaran akan berlangsung dengan baik. Perubahan pikiran selanjutnya akan diikuti dengan perubahan perasaan yang selanjutnya  membuahkan perubahan tingkah laku.


Baca Selengkapnya ....

Keterbatasan Bukan Alasan Meraih Mimpi

Posted by Unknown 11/01/2013 2 komentar

Turbo,”I am not just a snail”

Berkisah tentang seekor “snail” siput kebun yang mempunyai mimpi menjadi pembalap tercepat di dunia seperti idolanya Guy Gagne yang berhasil menjuarai Indianapolis 500 sebanyak 5 kali. 

Film animasi ini banyak memberikan pelajaran hidup, beberapa di antaranya antara lain :  

Miliki mimpi-mimpi yang tinggi 

Si siput “Turbo” memiliki impian yang berbeda dengan teman-temannya.Teman-temannya hanya berani bermimpi sebagai siput yang lambat, yang selalu memakan tomat. Meski pun ia seorang siput yang notabene-nya adalah hewan paling lambat, namun ia memiliki mimpi yang mustahil yaitu menjadi pembalap. Ia tidak peduli walau ia hanya seekor siput. 

Dalam kehidupan nyata, banyak dari kita tidak memiliki mimpi-mimpi yang tinggi. Kita hanya membatasi diri kita terhadap apa yang bisa kita lakukan saat itu saja. Kita tidak pernah mencoba untuk bermimpi dan mencoba mewujudkan mimpi itu.Terkadang untuk bermimpi saja kita sudah takut duluan, klo orang bialang “ mimpi aja lu gak berani, apalagi berbuat”. Banyak ketakutan yang kita pikirkan, takut gagal, takut dihina orang, takut dibilang “gila”, takut dibilang gak mampu dan yang lain sebagainya, sehingga akhirnya kita tidak pernah berani mencobanya. 

“Not dream is not too big, and not dreamer is too small” 

 “Tidak ada mimpi yang terlalu besar (untuk di raih), dan tidak ada pemimpi yang terlalu kecil (untuk bermimpi)”


 Lakukan segala hal yang bisa dilakukan untuk meraih mimpi itu 
Setelah kita berani untuk bermimpi, selanjutnya adalah hal yang paling terpenting. BERBUAT. Jangan hanya bermimpi saja, berangan-angan saja tapi melakukan apa pun yang bisa kita lakukan untuk meraih mimpi atau tujuan yang kita inginkan. 

Setelah turbo memiliki mimpi menjadi seorang pembalap, ia tidak hanya tinggal diam. Ia berusaha mewujudkannya. Ia berlatih keras mengalahkan waktu. Ia sering melihat pertandingan-pertandingan idolanya. Mengkhayalkan dirinya menjadi seorang juara. Bahkan ia pun tanpa sengaja “ikut” dalam sebuah pertandingan balapan jalanan yang akhir menjadikan ia memiliki kekuatan “super”.  

Do it everything to get your dream  

Mau menerima masukan yang baik dan acuhkan semua yang meremahkan. 

Dalam mencapai mimpinya menjadi seorang pembalap, ia sering mendapatkan cemoohan dari teman-teman dan dari saudaranya sendiri, Chet.Idolanya pun yang pada awalnya dianggap olehnya adalah seseorang yang mensupportnya (menyetujui ia mengikuti balapan), Guy Gagne, ternyata malah menjatuhkan mental dan semangatnya sebelum ia bertanding bahkan ia menjadi rival terberatnya dalam pertandingan tersebut. 
Sempat merasa down dengan hal-hal tersebut, namun ia bangkit. Ia pun memiliki sahabat-sahabat pembalap yang selalu setia mendukungnya. Ia juga mengacuhkan semua perkataan yang meremehkannya. 

Kehidupan kita pun sama halnya demikian, orang-orang dilingkungan sekitar kita terkadang meremehkan apa yang kita perbuat dalam mencapai mimpi-mimpi. Orang sekitar kita, teman atau bahkan keluarga kita sendiri terkadang menganggap bahwa kita tidak mungkin bisa mencapainya. 

Namun kita juga sering menganggap seseorang yang mendukung kita dalam segala hal adalah orang yang baik, sedangkan seseorang yang tidak sependapat bahkan melarang kita adalah orang yang jahat. Namun ternyata tidak, malahan sebaliknya. Seorang sahabat sejati adalah seorang yang mampu mengingatkan kita di saat kita akan jatuh, bukan malah mendorong kita jatuh. Bahkan ketika kita jatuh, ia ada disamping kita untuk memberikan tangannya, menolong kita dari keterpurukan bukan meninggalkan. 

Nah sobat, lihatlah disekeliling kalian, manakah diantara mereka itu sebagai sahabat mu yang mau menarikmu saat akan jatuh ke jurang atau sahabat yang malah mendorongmu ke jurang agar kamu jatuh lebih dalam. 

Show them that you can do it  

Jangan pernah menyerah hingga akhir 

Bermacam-macam perjalanan dalam mencapai mimpi. Ada yang mulus lancar dalam mencapainya, namun tidak sedikit pula yang harus melewati berbagai ujian, halangan dan rintangan yang menghadang. Entah itu dari dalam diri sendiri atau dari luar seperti orang lain dan lingkungan. 

Di saat kita benar-benar jatuh dan hanya selangkah lagi menuju keberhasilan, ujian yang paling berat malahan terkadang menghadang. Di sinilah akan tampak dari sosok kita, siapa kita sebenarnya. Apakah kita seorang yang pekerja keras dan pantang menyerah hingga akhir, ataukah kita hanya sebagai “looser” yang langsung menyerah ketika rintangan yang kita takutkan menghadang. 


Di akhir film ini pun demikian. Turbo yang akhirnya mendapatkan semangatnya kembali untuk mencapai mimpinya menjadi seorang juara, harus menghadapi rintangan terbesarnya Guy Gagne yang berusaha menjatuhkannya dalam balapan tersebut. Gagne akhirnya berhasil menjatuhkan Turbo dengan membuat rusak “mesin” yang ada dalam dirinya. 

Inilah ujian terberat turbo, di saat ia hanya beberapa langkah lagi untuk mencapai garis finis, ia tidak bisa. Tidak mampu. Ia menyerah. Namun sahabat-sahabatnya bahkan saudaranya yang pada awalnya menentangnya, memberikan semangat dan dukungannya agar ia mampu menyelesaikan pertandingan itu dan mencapai mimpinya dengan hanya menggunakan apa pun yang dimilikinya.  

“Finish this. Yes you can. Yes, you’re right now. It’s easy in you.” 

Ia pun berusaha “mati-matian” dengan hanya mengandalkan dirinya sendiri, dan akhirnya ia pun berhasil. 

Yang ada adalah “Kita”, bukan “Aku” 

Setelah mencapai garis finish, apa yang dikatakan turbo, “We won !” bukannya “I won!”.  Ia tahu, bahwa keberhasilannya mencapai itu semua selain dari kerja kerasnya adalah dari dukungan sahabat-sahabatnya. Ia sadar, tanpa mereka semuanya tidak akan berhasil. 

Kadang kesombongan, rasa egois itu muncul di benak kita setelah kita memperoleh apa yang kita impikan. Kita sering lupa bahwa kita tidak sendiri, ada orang lain yang menjadi “faktor” dalam kita meraih kesuksesan. Entah itu orang tua atau sahabat. Mereka memiliki peranan yang besar pula dalam kita meraih mimpi. 


“I am not a batman or a superman, but we are power rangers”


Baca Selengkapnya ....

Made dan Joko di Pulau Pohon Besar

Posted by Unknown 8/21/2013 0 komentar
Setiap orang memiliki pandangan  yang berbeda-beda terhadap satu hal, tergantung dari mana ia melihat hal itu. Semua itu tidak lepas dari namanya pandangan hidup atau pola pikir dari masing-masing individu. Pandangan hidup atau pola pikir seseorang,  tidaklah muncul hanya dalam waktu sekejap,  perlu berhari-hari bahkan sampai bertahun-tahun untuk dapat membangun pola pikir seseorang. 
 

Kita adalah hasil akumulasi dari pilihan-pilihan kita di masa lalu.

 
Pandangan hidup yang terima bergantung terhadap lingkungan, pola hidup dan informasi-informasi yang kita peroleh. Pandangan hidup inilah yang menjadi dasar seseorang untuk melakukan segala aktifitasnya. Apabila pandangan hidup yang diterimanya adalah yang benar dan sesuai, maka akan benar juga segala aktifitasnya. Begitupun sebaliknya. Oleh karena itu, untuk merubah pola pikir atau pandangan hidup seseorang itu tidak mudah. Butuh proses yang terus-menerus dan waktu yang tidak sebentar.

Untuk hal ini saya punya cerita, walaupun ini hanya cerita fiktif, tapi memiliki manfaat yang bisa di ambil. Begini kisahnya, terdapat  sebuah pulau yang diberi nama pulau Pohon Besar. Di beri nama seperti itu dikarenakan nyaris semua tumbuh-tumbuhan yang hidup di pulau itu memiliki ukuran diameter yang besar. Suatu hari sebuah pesawat perintis yang sedang melewati pulau tersebut.

Tiba-tiba pesawat itu mengalami kecelakaan parah yang mengakibatkan semua penumpangnya tewas kecuali dua orang traveller yang berasal dari Bali yang bernama Made dan Joko yang berasal  dari Jepara. Intinya hanya mereka berdua yang berhasil selamat dan menyelamatkan diri ke pulau tersebut. Setibanya di pulau itu, mereka berdua terkaget-kaget akan ukuran bermacam-macam tumbuhan yang memiliki ukuran yang tergolong besar. Mereka berdua takjub akan besarnya ukuran tanaman yang tumbuh di pulau itu. Made begitu setibanya di tempat tersebut langsung menandai setiap pohon besar dengan menggunakan kainnya yang bercorak Bali (kotak-kotak bewarna hitam putih) dan langsung berdoa di depan pohon tersebut, sedangkan  Joko memberi tanda pohon-pohon dengan kapur yang dibawanya setelah terlebih dahulu mengukurnya. Mereka melakukan apa-apa yang menjadi keyakinan mereka, terlepas dari benar atau salah. 

Made berpendapat, ia melakukan hal itu dikarenakan untuk menghormati dan menghargai alam yang telah memberikan kita hidup lewat oksigen yang kita hirup dan juga karena sudah ada yang melinggih disana. Berbeda dengan Joko, ia melakukan hal tersebut dikarenakan ia melihat peluang besar dari pohon-pohon itu untuk membuat kerajinan tangan, berbeda dengan daerah asalnya Pati yang sudah tidak begitu banyak lagi pohon-pohon berukuran besar.





Ada juga kisah yang lainnya, yaitu perbedaan antara orang Bali dengan orang Maluku terhadap pohon pepaya renteng. Pepaya renteng adalah jenis pepaya yang memiliki bunga bertangkai panjang. Di Bali, pohon pepaya renteng jika tumbuh di dekat rumah mereka, maka pohon tersebut akan dicabuti. Tidak dibolehkan untuk tumbuh besar. Alasannya adalah dikarenakan pohon pepaya renteng ini siluman leak suka bersandar di batang pohon tersebut untuk menghisap aura magis pohon itu. Sedangkan di Maluku, bunga jenis pepaya renteng biasanya dipakai untuk dimasak sebagai sayuran yang enak, jadi pepaya ini sengaja ditanam, dan dipelihara untuk dipetik bunganya.

Disinilah muncul apa itu yang namanya pandangan hidup yang telah mereka terima bertahun-tahun dalam kehidupan mereka masing-masing. Mereka berdua memiliki pandangan yang berbeda terhadap yang namanya “pohon besar”. Made yang berasal dari Bali menilai bahwa pohon besar adalah suatu tempat yang patut disakralkan bahkan dapat digunakan sebagai tempat beribadah, sedangkan Joko yang berasal dari Jepara yang basic kehidupannya adalah seorang pengrajin kayu, melihat pohon besar adalah suatu hal yang bernilai bagi seorang pengrajin.  






Dari kisah tersesatnya Made dan Joko di pulau Pohon Besar dan perbedaan pandangan terhadap pohon pepaya renteng antara orang Bali dengan orang Maluku, kita dapat mengambil hikmahnya. Satu hal akan menjadi berbeda, apabila dilihat oleh orang yang berbeda pemikiran, berbeda pandangan hidup dan berbeda sudut pandang. Oleh karena itu marilah kita saling menghargai atas segala perbedaan yang ada. Setiap orang berhak untuk berpendapat, melakukan apa pun yang mereka yakini. Namun dengan catatan, tidak merugikan orang lain, baik itu fisik, materi, moril dan lain sebagainya.

Note : kesamaan nama tokoh pada cerita Joko dan Made hanya cerita fiktif belaka. Penulis tidak bermaksud menghina atau menjelekkan suatu agama. Saya mohon maaf jika ada yang tersinggung akan hal ini, namun saya hanya ingin menjelaskan bahwa berbeda itu indah, tidak perlu adanya pertengkaran, perselisihan yang dibutuhkan hanya rasa saling menghargai dan menghormati perbedaan itu.

Baca Selengkapnya ....

Muqallid, mujtahid, ijtihad, dan taklid

Posted by Unknown 8/15/2013 4 komentar
Mungkin sebagian dari kita pernah mendengar kata-kata di atas. Ada yang sudah paham dan mengerti benar, ada juga sebagian yang hanya pernah mendengar atau bahkan ada juga yang tidak mengetahuinya sama sekali apa itu muqallid, mujtahid, ijtihad, dan taqlid.

Pada artikel kali ini sedikit saya akan membahas apa itu muqallid, mujtahid, ijtihad dan taklid. Hal ini perlu saya uraikan, karena ini salah satu fondasi dari kita ummat muslim dalam melakukan segala aktifitas keagamaan dalam kehidupan sehari-hari. Atas dasar inilah kita melakukan dan mengambil keputusan terhadap persoalan-persoalan terutama dalam hal keagamaan.

Muqallid adalah orang-orang yang karena satu dan lain hal tidak memiliki kemampuan dalam menelaah ilmu-ilmu agama sehingga mereka kurang memahaminya, atau biasa    disebut sebagai orang awam.
Kita sebagai seorang yang awam, diwajibkan untuk bertaklid kepada seorang mujtahid dalam segala bidang terutama apabila ditemukan persoalan-persoalan, karena tugas seorang mujtahidlah mencari jawaban dari permasalahan-permasalahan tersebut dengan ilmu yang mereka miliki.

Mujtahid adalah orang yang benar-benar memahami dan mengerti akan agama serta dapat mengeluarkan fatwa.
Beberapa mujtahid besar dalam bidang keagamaan adalah, imam Syafi’i (mazhab Syafi’i), imam Hanafi (mazhab Hanafi), imam Maliki (mazhab Maliki), imam Hambali (mazhab Hambali) dan imam Ja’fari (mazhab Syiah).

Ijtihad adalah  upaya mencurahkan tenaga untuk menyelesaikan suatu pekerjaan.
Dengan bahasa sederhananya adalah mengeluarkan fatwa dalam segala hal, terutama dalam bidang keagamaan dan jawaban penyelesaian atas persoalan-persoalan yang timbul.

Dalam hal berijtihad, siapapun dapat berijtihad  tidak terbatas hanya pada orang-orang tertentu. Namun untuk mencapai gelar mujtahid tentunya tidak gampang. Bukan hanya  dengan berlandaskan Al Quran dan hadits atau bahkan membohongkan para ulama hanya karena seseorang untuk dapat dikatakan menjadi mujtahid. Mereka harus menjalani  beberapa tahap ujian dari mujtahid-mujtahid pendahulunya disamping pengakuan dari masyarakat luas akan kepandaian ilmunya tidak sependapat dengan mereka. Banyak kriteria-kriteria yang harus dimiliki.

Taqlid adalah mengikuti pendapat dari seorang mujtahid tanpa harus mengetahui darimana sumbernya dan apa alasannya. Taqlid inilah yang digunakan oleh orang awam untuk mengikuti ijtihad para mujtahid.
Syarat-syarat seseorang untuk dapat bertaklid yaitu hanya dua, aqil (berakal) dan baligh (dewasa), sehingga bagi orang yang hilang akal dan belum dewasa maka belum diwajibkan baginya untuk bertaklid hingga hilang akalnya atau menjadi dewasa.



Hukum taklid

Bagi orang awam seperti kita, yang tidak memiliki ilmu-ilmu yang cukup dalam hal keagamaan, wajib hukumnya untuk bertaklid kepada seorang mujtahid. Dalam semua bidang, terutama dalam hal muammalah dan ibadah. Bahkan, begitu pentingnya masalah taklid ini menjadikan tidak sahnya suatu  pekerjaan seseorang tanpa bertaklid.




Timbul pertanyaan,
Apakah ini berarti tidak dibolehkannya seseorang untuk  mengeluarkan pendapatnya dan mengikuti pendapatnya sendiri dalam beribadah termasuk permasalahan-permasalahan yang timbul didalamnya?
Siapakah yang akan bertanggung jawab (di akhirat kelak) terhadap apa-apa yang kita lakukan jika bertaklid kepada seorang mujtahid, apakah kepada mujtahid yang diikutinya atau tetap dirinya sendiri?
Apakah ini berarti Allah SWT berlaku dzalim (tidak adil) kepada hambanya, dikarenakan tidak dibolehkannya (mengambil pendapatnya sendiri dan menjalankannya sesuai pendapatnya itu) dan juga kepada para mujtahid (atas fatwa mereka) dikarenakan jika terjadi kesalahan dari fatwa tersebut sang mujtahidlah yang akan mendapatkan dosanya?

Benar, tidak dibolehkannya seseorang untuk mengeluarkan pendapatnya sendiri dalam menyelesaikan suatu permasalahan. Hal ini dikarenakan ilmu yang dimiliki oleh orang awam berbeda dengan ilmu yang dimiliki oleh mujtahid. Seorang mujtahid menghabiskan seluruh pemikirannya dalam hal segala hal dan mencari jawaban atas permasalahan-permasalahan yang timbul, sehingga mereka akan sangat berhati-hati dalam mengeluarkan fatwa. Berbeda dengan orang awam yang mungkin hanya sebagian kecil dari hidupnya untuk menelaah hal-hal keagamaan.

Iya, seorang mujtahid akan mempertanggung jawabkan terhadap fatwa-fatwa yang diikuti oleh muqallid yang mengikutinya. Hal ini bukan berarti Allah SWT tidak adil, namun justru inilah keadilan Allah. Allah SWT tidak akan menyiksa kaum awam atas dasar kesalahan yang mereka lakukan, meskipun kesalahan tadi kelak akan dipertanyakan kenapa dan siapa penyebabnya. Andaipun ternyata fatwa yang dikeluarkan oleh mujtahidnya itu salah, hal tersebut masih lebih baik, daripada kita mengikuti pendapat kita sendiri (yang tidak mengerti dan memahami hal-hal dengan benar). Oleh sebab itu, syariat membebankan tanggung jawab di pundak seorang ulama, bukan orang awam.

Dalam penerapan taklid itu dilakukan pada semua hal, terutama pada muammalah dan ibadah. Namun yang perlu digaris bawahi adalah dalam mengetahui dan mengenal Allah, seseorang tidak dibenarkan untuk taklid kepada seorang mujtahid !!!. Mengetahui dan mengenal Allah SWT, haruslah dilakukan dengan jalan merenungi dan berfikir secara jernih dan menyeluruh. Hal ini akan kita bahas di artikel lain yaitu tentang Mengenal Allah tidak melalui taqlid.


Perbedaan sunni syiah dalam hal ijtihad

Dalam syiah, pintu ijtihad tidaklah tertutup. Mengapa dikatakan tidak tertutup?hal ini dikarenakan para mujtahid memiliki ajal. Mereka bisa mati. Jika pintu ijtihad tertutup atau dengan kata lain dibatasi oleh orang-orang tertentu atau zaman-zaman tertentu, tentunya kita yang hidup di zaman sekarang ini sangatlah rugi karena tidak hidup bersama dengan para mujtahid, sehingga setiap permasalahan agama yang kita alami tidak dapat diselesaikan dengan tuntas. 

Berbeda dengan ahlussunnah. Mereka berpendapat bahwa pintu ijtihad telah tertutup, sehingga saat ini tidak ada seorangpun yang dapat berijtihad. Mereka berkeyakinan bahwa orang pada zaman sekarang tidak akan mungkin menyamai dalam hal ilmu dengan orang-orang terdahulu. Itulah sebabnya mengapa didalam ahlusunnah dikenal istilah qiyas, yaitu mengambil pendapat atau fatwa terhadap suatu permasalahan yang ada dengan mengambil fatwa lain yang memiliki kesamaan sebabnya. Pada syiah tidak ada qiyas, karena pintu ijtihad itu masih terbuka hingga saat ini. Sehingga dalam setiap permasalahan yang ada, mereka akan merujuk kepada mujtahidnya. Salah satu contoh mujtahid pada mazhab syiah adalah Ayatullah Khomeini.



Namun semoga perbedaan sunni syiah ini semoga tidak menjadi suatu hal yang dibesar-besarkan. Setiap mazhab memiliki pandangan dan ajarannya masing-masing. Asalkan dalam hal-hal yang prinsipil (yaitu ushuludin) tidak terjadi penyimpangan. Different it’s beautiful.

Sekian dulu artikel ini, terima kasih sudah membacanya dan semoga dapat memberikan sedikit manfaat bagi kita.





Baca Selengkapnya ....
trikmudahseo.blogspot.com support www.evafashionstore.com - Original design by Bamz | Copyright of Perbedaan adalah indah.